Aku Masih Disini

Juni 11th, 2009 by tidakcantik

Pernah disini,
tanpa jeda kutatap dinding ini, antara menuang jerit hingga menampung caci.

Lalu aku hilang,
nyaris tanpa permisi, bukan karena niat hati apalagi sangsi akan eksistensi diri.

Masih disini,
aku tetap setia bercengkrama dengan kata-kata, masih sibuk menjalin kisah menjadi makna untuk dibagi pada kawan.

Hanya saja…
diluar sana mendung pekat terlena mengajakku bergumul, sampai pada malam ku ingin terlelap. Masih untung tak membuatku lupa bernafas.

Maaf,
kemarin aku masih sibuk di belakang layar.

(*i miss my blog, i miss u all)

Simpati Sederhana untuk Dua Negara

Januari 6th, 2009 by tidakcantik

Aku tidak benci keramaian,
aku hanya lebih senang “tenang”… tenang saat sendiri, tenang di antara kerumunan!

Ramai… berita perang dua negara jadi tajuk yang merajalela.
Simpati diungkap lewat banyak cara… meski tak ada kerabat disana, yang nyata pernah berjabat erat. Toh, kita tetap berduka… Untuk Palestina.

Ramai… berlomba-lomba menghujat, seolah Israel musuh di depan mata.
Tak ayal Lidah dan airmata jadi pedang pengiring “Jihad”. Barisan pun mulai berderet, banyak judul ditawarkan atas nama simpati massa.

Simpati sah dalam beragam cara…
Tapi maaf kawan, saudara, dan pahlawan-pahlawanku, aku sekali ini mengaku lemah dan kalah!
Aku tak mampu ambil barisan dan pasang badan untuk kalian. Bahkan lidahku pun tak banyak menghujat lawan.

Maaf, maafkan aku…
Dari sekian panjang episode “perang” ditayangkan, tak lebih semenit aku menatap layar kaca.
Terlalu perih! Bulu kudukpun serempak berdiri.
Keramaian yang biasa kuhindari, muncul tanpa permisi… penuh luka berdarah-darah.

Maaf, maafkan aku…
Teriakan malaikat-malaikat kecil mencari ibunya, yang entah di sisi mana? Mungkin pula telah termutilasi ledakan dahsyat. Aku pernah terluka di pelipis, sakit… sakit sekali! Lalu apa rasanya bagi malaikat-malaikat kecil itu, ketika wajahnya, rambutnya berhias noda… DARAH?

Maaf, maafkan aku…
Aku terbiasa beraksi untuk yang tersakiti… tapi kali ini apa dayaku, apa yang nyata bisa kuperbuat?? Aku tak biasa cuma menjadi saksi! Maaf, terpaksa kututup mata dan telingaku atas derita kalian. Supaya aku berhenti berpikir “andai aku bisa membangunkan raga-raga yang terbujur kaku!”

Maaf, maafkan aku…
Kawan, saudara dan pahlawan-pahlawanku… Aku palingkan panca indera atas musibah ini. Tapi ijinkan aku, tetap berjuang… hanya dengan hati, tak putus doa untuk jiwa-jiwa yang mati teraniaya.

Maaf, maafkan aku…
yang masih sempat merebahkan punggung diatas kasur, sementara kalian tak hentinya berlari mencari tempat sembunyi.

Maaf, maafkan aku…
yang masih sempat menanti bulan mampir di langit rumahku, sementara kalian tak hentinya menatap langit demi menghindar dari cahaya pertanda mati.

Maaf, maafkan aku...
karena derita kalian justru sempat membuatku mensyukuri hidup… Ternyata gemuruh di sepanjang hidupku tak lebih dahsyat dari hari-hari kalian yang berdarah.

Maafkan aku…

Maaf Aku Suka Kamu, Nduk…!

Desember 29th, 2008 by tidakcantik

(”Bisa bikinin saya puisi tentang “Aku Suka Kamu”? Tapi jangan buru-buru nanti hasilnya kurang pas!” Begitu permintaan dari seorang kawan. “Nduk”?? kata-kata ini mewakili perbedaan usia diantara lelaki dan wanita yang ia suka. )

Sedikit komunikasi, lantas kurangkai kata dari emosi cerita kawanku ini. Dan 5 menit kemudian kukirim puisi pesanannya. Alhamdulillah… Dia suka! :)
==========================================================================

Nduk…
Ini tentang rasa…. Meski tak ada jumpa… Ini tentang rasa, bukan tiba-tiba!
Mata, dari sini segalanya berawal. Aku terpikat oleh rupa, mungkin sebatas jepretan kamera.

Percakapan singkat, membawa aku makin terpikat.
Kamu pandai benar… hingga aku tak lagi peduli bagaimana sebenar-benarnya rupamu?

Nduk…
Ini tentang aku… “Aku Suka Kamu!”
Soal apa yang kau rasa, tak kan jadi hal. Toh, rasa tak boleh memaksa!

Aku pasrah, andai ini tak berbalas.

Ketika Lelaki Takut Jatuh Hati*1 (hati VS logika)

Desember 27th, 2008 by tidakcantik

Dari padatnya rutinitas, ada sepertiga malam yang sedikit egois padaku.
Memaksaku berpikir tentang pentingnya kawan hidup.
Bukan aku tak ingin… Tapi yang datang, lebih dulu menyodorkan keangkuhan.

Berawal pujian, terus saja memuji, tentang aku.
Lalu bercerita tentang siapa dirimu,
terlalu banyak cerita… tanpa memberi aku ruang untuk mengenalnya dengan caraku.
Seperti tak percaya bahwa aku mampu memahaminya lebih dari dia paham siapa dirinya
dan apa maunya.

Merasa paling mahir bermain logika?!

Atas nama kesibukan, orientasi hidup, rasa kecewa atau apalah…
Lelaki datang dengan sebuah perintah “jangan main hati!”

Aku marah…
bukan karena siapa yg datang pada siapa.
Tapi perintah itu seperti penolakan, pada apa?!
Toh, aku belum juga sedang berjuang untuknya.

Segala ucap, segala laku memang dari hati.
Nikmati saja, kenapa ribut menterjemahkan?

Detik ini aku suka, detik berikutnya masih tanda “?”

Rahasia hati adalah misteri untuk dinikmati,
biar aku berekspresi… aku mencintai kejujuran hati.

Kamu dengan segala maumu adalah urusanmu!
Dengan pedang logika kamu mendekat, lalu berharap untuk tidak terikat.
Baiklah, Aku hamparkan medan laga… memberimu ruang untuk bertarung,
membuatmu merasa menang sebelum berperang.

Pertengkaran…
adalah ketika logikamu menegur aku,
“jangan main hati!” begitu katamu.

Aku marah…
seharusnya kemahiranmu berlogika menyadarkan bahwa kamu tak punya hak melarangku.
Apapun, terlebihi soal hati.
aku sedang menikmati detik, itu saja!

Nanti, aku bisa saja tergila2 padamu! Nanti, jika kamu ingin!
Tapi kamu membentengi diri, untuk tidak main hati.
Harusnya logika bersifat pragmatis bukan egois,
kamu perlu belajar itu.

Niat baik ini kamu nodai dengan keangkuhan,
maka bijak bukan bila aku anggap ini sebuah permainan.
Aku memang terlanjur bermain hati,
tapi aku tahu kapan harus berhenti.

Aku sebagai aku…
membuatmu jatuh hati, akhirnya!
Lagi-lagi dengan pujian, kamu tawarkan sebuah ikatan.

“aku berbeda dengan wanita-wanitamu…”, begitu katamu.

Aku…
bermain logika setelah hati berhenti berjuang.
Terlanjur aku nikmati ini sebagai permainan.
bagaimana mungkin aku ingkar pada komitmen pribadiku?

Butuh waktu untuk menCINTA.
Tapi aku main hati karena merasa mengenalmu,
kamu main hati karena menatap wujudku.
Dangkal!

Kamu…
hati-hati pada kekuatan hati.
Pedang logikamu toh patah juga oleh diamku.
Mencari yang telah hilang?

Terimakasih sudah menitipkan hati untukku… tapi maaf, terlambat!

(disunting dari prosa lama ku 18 Juli ‘08)

Mati Tanpa Belaian…??

Desember 26th, 2008 by tidakcantik

rabbit…

Kawan hidup yang tidak pernah mengeluh…
cantik tapi lemah.

Ini bukan karena takdirnya mati di tanganku…
ia hanya tak pernah mengeluh.

Aku melewatkan satu hari tanpa belaian…
dan ia mati.

===========================================================================

Aku begitu mencintai kelinciku, meski cuma kelinci.
Tapi ini lebih dari sekedar kehilangan kelinci, hewan piaraan, kesayangan.

Dia lemah, mudah saja mati. Dan aku berkali-kali ditinggal mati kelinci-kelinciku, putih, coklat, hitam, putih lagi… banyak!!

Siapa yang salah? Aku…? Bisa jadi, karena kelinci butuh dirawat jeli. Soal makanannya, tempat tidurnya, obat2nya, bahkan perhatian pemiliknya. Dan aku melewatkan sehari “lupa” membelainya, lalu dia mati. Entah!

Itu Kelinci.. hewan.. binatang..!

Kamu, dia, aku, Kalian!
Semua…. yang mendapat label “Manusia”,
ciptakan
bedamu dengan kelinci-kelinciku… yang mati tanpa belaian. Begitu bergantung padaku.

Patutkah manusia mati, hanya karena begitu bergantung pada seorang“makhluk”?

Semoga tidak…!!!

Candu Rindu (This One 4 iYes)

Desember 23rd, 2008 by tidakcantik

Permintaan seorang kawan…(katanya sieh mau dibikin lirik lagu!?)
Makasih buat atensinya,, with all my honour i give it to you…
(Dia juga yang minta ini di posting di blog aku aja… hehe :) )

Aku ini lelaki sejati,
tak kenal bahasa pujangga.
Kalimat “Cinta mati”,
hanya kubalas dengan tawa.

Lalu kini kau pergi,
di menit rindu mulai mencaci.
Perempuanku terkasih,
haruskah kujemput kau dengan puisi?

# Mengapa rindu serupa candu?
Buatku nyaris tak punya malu
Logika ini terkubur rasa
Egoku pun sejenak binasa

Gejolak hasrat berharap kabar,
hingga bulan menggeser fajar.
Aku sungguh enggan sesumbar,
tentang rindu yang lancang mekar.

# Mengapa rindu serupa candu?
Buatku nyaris tak punya malu
Logika ini terkubur rasa
Egoku pun sejenak binasa
…….seribu caci berganti puisi
…….terurai lancang demi kau datang…

Mama Suka “Ayat-Ayat Cinta”

Desember 22nd, 2008 by tidakcantik

Ramai orang membicarakan “Ayat-Ayat Cinta” versi layar lebar. Rela antri berjam-jam di loket bioskop, menyaksikan berulang kali, meributkan adegan-adegan yang paling disuka dan tokoh yang layak diidolakan. Bahkan seorang kawan mendadak punya ide gila memasarkan dvd nya.

Kemudian mereka sibuk menokohkan dirinya sebagai Aisyah, Maria, ataupun Fahri. “Ayat-Ayat Cinta” mulai jadi fenomena yang divisualisasi dalam kehidupan nyata. Hampir di setiap keramaian yang kujumpai, nama-nama tokoh utama sering mampir di telingaku. Poligami sebagai tema cerita akhirnya jadi topik hangat. Para lelaki yang memang sulit untuk setia, seolah mendapat pembenaran. Mereka pun mulai lantang bicara soal halalnya “Wanita Kedua” dalam pernikahan.

Mamaku bukan penggemar apalagi penikmat film sejati. Hanya saja adik lelakiku mulai tumbuh sebagai ABG yang jarang mau bergaul dengan teman-temannya. Alhasil, mama seringkali jadi teman jalannya.

“Ma, kata teman-teman film “AAC” bagus banget! Ayo ma…. kita nonton!” suara rengek adekku akhirnyan lenyap oleh anggukan mama.

Jadilah sore itu agenda nonton “Ayat-Ayat Cinta”. Tak kuduga, selepas menikmati film itu mama tak juga berhenti berkisah. Sindrom pasca nonton “Ayat-Ayat Cinta”.

Bukan soal poligami, bukan soal potongan-potogan adegan, bukan pula tentang hikmah dari jalan cerita. Mama suka “AAC” karena tokoh Fahri mirip benar dengan almarhum Adik kandungku, ia meninggal di usia 22 Tahun.

Kini “AAC” tak lagi sefenomenal di awal. Namun, pesona Fahri terlanjur lekat di benak mama. Setiap kali sosok itu muncul di infotainment atau acara apapun, sebagai siapapun, mama selalu spontan berucap terbata, “Anakku… anakku ada di TV!” Lalu airmata menggenang di kelopak mata Mama. Ada kerinduan mendalam yang tak terpungkiri.

Aku hanya mmpu membalas dengan senyuman, meski hatiku tak kalah perih. Bukan ingin menipu diri. Atau berharap muluk bahwa senyumku mampu menyeka airmata Mama. Kupikir kalau aku menyambung airmata mama dan kami menangis bersamaan, niscaya kesedihan ini pasti makin panjang.

Beranjak gesit dari dudukku, senandung lirih makin tak seirama dengan langkah kakiku yang makin tergesa. Kuputar engsel pintu kamar, belum sempat terbuka dan airmataku tak lagi kompromi. Lebih deras dari tangis mama.

“Aku tahu yang Mama rasa. Tapi Mama tak boleh tahu kesedihanku pun sama!” Gumamku lirih pada layar TV. Benar-benar mirip!

Sedang Ingin Menikah

Desember 18th, 2008 by tidakcantik

Keinginan ini melebihi rengek gadis kecil meminta kembang gula. Ada mimpi-mimpi kecil memenuhi gelembung awan dalam benak. Aku tahu ini tidak mudah. Satu persatu kerabat datang dengan lembar perceraian atau masih serupa niatan.

Agungnya mahligai pernikahan runtuh hanya oleh mendung, sementara suramnya justru ramuan emosi belaka. Atas nama ego pribadi. Belum juga hujan, bisa saja payung dibentang, tapi banyak yang lari pulang. Memilih diam dalam kandang, meski harus sendiri!

Apakah lupa?
Selama nyawa masih menenmani raga, langit pun masih bergantian melukis mendung dan terik.
Kenapa sibuk berteduh?

Aku ingin menikah!

Bodoh benar menolak gerimis dengan menyingkir? Lantas bersombong diri bahwa gaunnya anti air?? Apa hebatnya menang tanpa berjuang? Apa hebatnya mengalahkan kawan hidup? Sendiri dianggap solusi?!

Sendiri itu simbol kebebasan? Bukan!
Kebebasan adalah jiwa yang tak terjajah. Tangis dan tawa mengalir lantaran ingin. Sendiri atau berpasangan, kebebasan lebih pada mensyukuri pilihan hidup. Tentang apa atau siapa.

–!!!–

SEDERHANA, itu rancangan mimpi pernikahanku.
Tanpa pesta berlebih, tanpa istana kaca, tanpa kuda putih, tanpa brankas baja. Hanya Kau dan Aku, apa adanya!

Jangan takut sayang…
Aku punya penangkal petir. Lebih dari itu kita pikirkan bersama. Kau, Aku dan Tuhan

Jangan acuhkan dulu mimpi sekitar, ini tentang kita bukan?
Aku cuma minta kau untuk setia dan beri aku makan 3X sehari. itu saja! Karena nanti, uang makan dari keringatku kuberikan pada Ibuku.

Sssttt… tunggu dulu sayang, maaf…
Tolong, jangan nikahi aku sekarang. Bukan soal kau. Aku hanya sedang sibuk. Sibuk memutar otak, mencari celah merubah peluh jadi rupiah.

“Tolong, tunggu sampai aku dapat uang makan, ya sayang!”

Setelah itu…
beri aku anak! semirip aku tentunya.
Karena wujudmupun aku belum tahu, sayang…

Sepi Sendiri

Desember 10th, 2008 by tidakcantik

Seperti menangis pada pusara, kesedihan yang termaklumi oleh massa.

Namun tak satupun tangan merengkuh untuk hapus dukaku.

Jangankan mereka, rohmu pun tak lagi mampu berkata.

Dan aku sendiri…

Kau, Permisi Pergi?

Desember 10th, 2008 by tidakcantik

Aku kehilangan kabar,

Mulanya marah karena gelisah,

Sebentar pasrah karena lelah,

Murka masih berputar di kepala,

Mendung masih kelabu di sudut tanya.

Di detik kepasrahan terdalam,

Saat ikhlas mampir di ruang pikir,

Ketenanganpun beranjak hadir,

Lalu kabarmu datang bak petir,

Ternyata kau belum benar-benar menyingkir.

Lantas kusadar kau datang hanya untuk sebuah kabar,

“Aku benar-benar harus pergi, dear…!”